Senin, 24 September 2012

Seks Bebas di Karimun + Kondom + Nafsiah Mboy

Seperti yang mungkin sudah diketahui pembaca blog saya, saya hobi berat memancing. Dan kebetulan sekarang domisili di Pulau Karimun Kepri. Selama disini jarang sekali saya mancing ke tengah laut menggunakan perahu seperti saat saya masih tinggal di Batam.

Jadi penyaluran hobi mancing di Karimun biasanya surf casting dari tepian laut. Tempat mangkal saya biasanya di sepanjang jalan lingkar tepi laut dan Gloria (mungkin orang Tj Balai sering menyebutnya GL). Beberapa kali pengalaman jelek pernah saya alami saat mancing di area ini. Terkadang saya menemukan kondom bekas pakai di area GL, tissu dengan (maaf) sperma terbungkus di dalamnya. Dan tentu saja saya benar-benar marah waktu menemukannya di sana-sini terutama di area GL bagian ujung tempat saya biasanya nongkrong mancing.

Di Karimun sini budaya seks bebas memang agak memprihatinkan, coba aja disaat malam hari naek motor satu putaran ke jalan lingkar tepi laut, pasti Anda akan menemukan berpuluh-puluh pasangan muda-mudi sedang bermesraan di tepian laut. Biasanya di tembok pemecah ombak di pinggir jalan. Yang paling parah, mereka seolah sama sekali tidak perduli dengan sekitarnya, asyik bermesraan, cuek tanpa rasa malu. Dan saya yakin mayoritas dari mereka bukan pasangan menikah. Bahkan terkadang saya hanya menemukan motor saja, si empunya motor nyungsep entah kemana.

Di area Gloria juga tidak kalah parahnya di setiap tempat yang agak gelap pasti mudah ditemukan mahkluk-makhluk mesum berkeliaran sambil mengumbar syahwat. Saya yang biasanya kalau memancing mengajak anak dan istri saya cuma bisa mengeluh risih. Fenomena ini mungkin tidak terjadi di Karimun saja. Dulu semasa masih di Batam, sasaran muda-mudi ini biasanya di Jembatan Barelang dan sekitarnya.

Orang bilang Kepulauan Riau adalah tanah melayu yang kental dengan budaya Islamnya, tapi saya sama sekali tidak melihat adanya teguran ataupun tindakan sama sekali untuk hal ini. Berbeda dengan di kampung dulu. Saya lahir dan besar di Semarang, terus terang di kota kami mayoritas masyarakatnya adalah Islam kategori abangan (jujur mungkin saya masuk kategori ini juga). Tapi untuk urusan penerapan norma dan nilai agama jauh lebih ketat daripada disini.

Di sana untuk pasangan muda mudi belum menikah punya jam malam, biasanya lebih dari jam sepuluh perwakilan pemuda setempat (Karang Taruna) akan menyamperi pasangan tersebut untuk segera pulang. Tapi karena hampir beberapa tahun saya belum pulang kampung, semoga saja keadaan disana tidak seperti disini.

Apa yang salah dengan kejadian ini? Peran keluarga kah? Ulama atau tokoh agama? Sekolah ataupun lingkungan?

Kalau untuk pemerintah sudah pasti mereka ikut berperan dalam kebusukan moral ini. Masih ingat kontroversi kondom oleh Ibu Menkes Nafsiah Mboy? Beliau punya program besar untuk membagi-bagikan kondom bagi pengguna usia remaja, dengan dalih mencegah HIV AIDS dan mengurangi aborsi kehamilan diluar nikah. Jadi seolah-olah pemerintah membolehkan seks bebas selama pelakunya menggunakan kondom. Itu menurut pendapat pribadi saya. Padahal setahu saya HIV/AIDS tidak menular melalui hubungan seks saja.

Tersangka lain untuk penyebab kebusukan moral ini adalah media massa, baik TV, Internet dll. Entah sejak kapan ada dogma "Nggak pacaran nggak gaul", "Nggak pacaran nggak keren" dan bahkan mungkin "Hari gini masih perawan?" muncul di kalangan remaja. Betapa malunya sekarang para remaja yang tidak punya pacar, betapa bangganya sekarang muda-mudi berboncengan sambil berpelukan diatas motor.

Betapa berbedanya dengan jaman saya dulu remaja, nggak ada istilah keren, gaul atau pacaran. Yang ada sekolah, pulang, cari rumput untuk kambing, malam belajar. Yang bisa dianggap keren itu kalau kita bisa juara satu di kelas. Dan betapa malunya kalau kita ketahuan tidak membuat pekerjaan rumah.

Maaf kalau tulisan saya agak ngelantur, pagi ini entah kenapa mood kerja tidak ada dan saya kepikiran kondom yang saya ketemukan saat mancing 2 bulan lalu di GL + ingatan tentang remaja-remaja tanggung usia SMP yang masih asyik berpelukan saat saya pulang mancing jam 12 malam 4 hari yang lalu.

Rabu, 12 September 2012

Memutar layar Windows

Lagi kerja di kumpeni tiba-tiba istri telepon, "Yah, kok layar laptop yang dirumah jadi miring ya?". Saya pun nanya,"Kok bisa? Lha emang tadi diapain?" "Nggak tahu, lagi asyik ngegame salah pencet tombol keyboard, tahu-tahu aja layarnya dah miring".

Saya jadi penasaran juga, perasaan seumur-umur make pc/laptop nggak pernah denger layar monitor bisa diputar-putar pake OS, kecuali lewat settingan monitornya, nah ini kan laptop, perasaan nggak ada tombolnya. Kalaupun bisa, siapa juga yang mau make monitor dengan huruf kebalik-balik atau miring. Yang ada malah kepala bisa juling atau paling nggak leher keseleo.

Searching di Mbah Google ternyata windows memang memberikan fasilitas memutar screen. Buseeet. Tombol keyboardnya : Ctrl+Alt+Left Arrow Key (putar 90 deg ke kiri), Ctrl+Alt+Right Arrow Key (putar 90 deg ke kanan), Ctrl+Alt+Down Arrow Key (putar upside down).

Baru saya coba di komputer kantor, pake OS Windows 7 dan emang bisa.

Ada-ada aja.

 

Selasa, 11 September 2012

Hati-hati dengan luka kecil..

Luka kecil sering dianggap sepele oleh beberapa orang, termasuk saya. Hehehehe.

Hari Sabtu minggu lalu saya sekeluarga dan rekan kerja piknik ke Pantai Pelawan, kalau saya dan rekan saya pengennya mancing. Acara lain, bakar-bakar sate dan mandi aja. Kapan-kapan saya upload photo-photonya di blog.

Bukan pikniknya yang pengen saya ceritakan kali ini. Waktu piknik kemarin, kaki saya tergores tangga di pantai pelawan. Saya juga heran tangga kok bisa tajem gitu. Terantuk pelan saja, langsung luka sepanjang 5 cm. Karena saya pikir cuma luka gores, akhirnya saya biarkan saja.

Hari minggu dengan PDnya acara piknik dilanjut lagi, kali ini saya sekeluarga mancing di tepi laut. Ikan kecil-kecil aja yang naik, sekitar 5 ekor. Hari Senin saya berangkat kerja seperti biasa, luka saya yang kebetulan di atas telapak kaki dengan terpaksa saya tutup safety shoes. Nggak terasa sakit. Seharian bekerja seperti biasa.

Hari selasa pagi, entah kenapa badan saya mulai demam, selera makan pun menghilang. Di lipatan paha saya muncul benjolan kecil yang nyeri sekali. Selama pagi hari ini saya berjalan terpincang-pincang. Setelah makan, dengan maksud mencari obat demam atau cuma vitamin aja, saya berangkat ke klinik perusahaan.

Di klinik, keluhan saya cuma demam dan meriang, tanpa batuk dan pilek. Saya pikir, mumpung masih tahap ringan, kalau demamnya bisa diobati pasti cepat sembuh dan nggak sampai parah. Giliran dicheck fisik sama dokter, ada satu pertanyaan yang membuat saya kaget. "Bapak cuma demam saja, punya benjolan disertai rasa nyeri nggak di leher, ketiak atau lipatan paha?". "Punya pak di lipatan paha kaki kiri" jawab saya. "Coba dibuka kaki kirinya" kata dokter.

Yang dibuka kaki kiri lho ya. Bukan lipatan pahanya. Dan ternyata, luka gores kecil saya tadi sudah bengkak dan bernanah. Dokter bilang luka saya infeksi dan kalau nggak ditangani serius bisa berlanjut ke infeksi akut. Alamak, saya langsung kebayang amputasi.

Jadi, jangan remehkan luka kecil, kalau luka tadi disertai rasa nyeri di daerah leher, ketiak atau lipatan paha. Mungkin luka anda mengalami infeksi.